Catatan Umroh 2019


Sambil menunggu loading bagasi kepulangan di bandara King Abdul Aziz, Jedah. saya sempatkan menulis coretan ini. Selama saya umroh, disela menunggu waktu sholat,setelah rukun dan sunnah dijalankan, saya sempatkan video call dengan anak2, tak satupun yang mengangkat. Telefon direject begitu saja yang hanya meninggalkan pesan "bunda fokus ibadah aja, jangan medsos dan main hp". Tersenyum kecil saya mengingat saya pun pernah menyeletuk perkataan ini kepada teman kerja yang menjalankan umroh tapi masih bisa update status atau live kegiatan umrohnya.

Saatnya kini saya yang mengalaminya. Euphoria ini bukan sekedar hanya ingin "terlihat". Saya membatasi memposting foto  hanya yang sarat konten bermanfaat. Saya berharap postingan saya itu menjadi setruman energi lompatan ruhiyah yang saya rasakan agar menular kepada pembaca. Agar teman, anak, terpanggil menancapkan niat dalam hati apapun kondisi internal yang kita hadapi.

Sekarang baru saya sadari, umroh dan haji merupakan "undangan" dari Alloh, yang tidak ada satu kekuatanpun dapat mencegahnya. Biarlah saya dinilai katrok atau lebay karena baru pertama kali menjalankan umroh disaat beberapa orang sudah beberapa kali mengunjungi Baitullah. Saya ingin memotivasi, ayo kita semua menjadikan umroh dan haji dalam lifemap kita terlepas dari berapa cicilan rumah, kendaraan, sekolah anak yang harus dibayar. Seluruh kegiatan umroh dengan paket tour terminimalpun membutuhkan tenaga prima. Saya hanya tidur 2-3 jam sehari selama umroh, karena begitu padatnya kegiatan dan pembimbing kami tidak menyisakan waktu bagi kami untuk berleha leha apalagi belanja dalam waktu yang lama. Waktu dioptimalkan untuk mengais fadhilah ibadah sunnah,apalagi fadhilah sholat di masjid nabawi dan masjidil haram. Tak ada ampun, jelang sholat kami akan diabsen, ditelfon room to room, wa group, bahkan diketok kamar supaya bergegas. Kembali ke pembahasan tenaga extra tadi, saya menganjurkan teman2 berumroh dan berhajilah di usia muda. Kalau ingin mengajak anak usia sekolah dan balita,prioritaskan umroh untuk diri sendiri/suami istri terlebih dahulu.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kisah kisah pengalaman berumroh atau berhaji ini menjadi cerita yang ditunggu tunggu. Sebenarnya hal ini memang mutlak menjadi rahasia kita dengan Alloh, menjadi kebanggaan dan keharuan yang merembesi hati kita masing masing. Namun saya akan mencoba menceritakan pengalaman berkesan dalam coretan ini untuk mematahkan tembok keragu raguan bahwa pertolongan Alloh itu dekat, dekat sekali, sedekat urat leher.

  1. Sholat sunnah dan berdoa di Raudhah
  2. Sholat sunnah dan berdoa di hijir Ismail
  3. Mencium hajar aswad

Saya tidak akan menceritakan detailnya, yang pasti. Ada moment di Raudhah dan Hijir Ismail saya menyangsikan "Ya Alloh, manusia sebanyak ini, apakah saya bisa? Ketika saya mencoba mengkoreksi keragu raguan ini menjadi keyakinan, pertolongan Alloh muncul begitu saja.

Ketika di hajar aswad, pembimbing saya berpesan tunggu disini ya, bertahan dan jangan maju sebelum grup ikhwan datang. Ketika gelombang perempuan perempuan negara lain yang berbadan besar menyikut hingga jilbab merot merot, tercekik, tercakar yang semua saya yakin dilakukan tanpa sengaja. Kaki seperti tidak berpijak di tanah (ternyata pengalaman kerja sambil kuliah  Manggarai-UI yang mewajibkan keahlian bergelantungan dan balet di atas satu kaki di KRL "jaman jadul" itu bermanfaat sekali). Nah, disaat saya bertanya dalam hati, "mana ini bala bantuan yang pembimbing saya janjikan? " disaat itu saya sadar. Jangan pernah berharap pada manusia, berharap hanya pada Alloh saja. Allohumma yassir wala tu'assir.. "Saya percaya bisa! Tapi kalau Alloh belum berkenan saya mencium hajar aswad kali ini, saya ridho dan ikhlas". Disaat keikhlasan itu muncul, jalan terbentang didepan mata. Benarlah bahwa hajar aswad adalah batu surga. Tiba tiba hujan turun rintik rintik disaat posisi saya sudah dekat sekali. Setelah berhasil mengecup dan mengusap hajar aswad, suasana berubah hening, sunyi. "Kemana hingar bingar orang tadi? " Saya sadar, kedamaian dan luapan tangisan ini harus menjadi hak bagi banyak orang. Tak perlu berlama lama, berdoa secukupnya daan bergegas mencari jalan keluar. Sayapun berhasil keluar dari kerumunan yang tak kalah heboh dengan perjuangan masuk.

Ada satu lagi nih, tapi ini kenakalan kecil yang saya dan kakak nomor 2 lakukan di Madinah. Kami berbelanja menjelang ashar. Hingga adzan kami masih di dalam area perbelanjaan. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke hotel dulu menaruh belanjaan baru berlari ke masjid,mengingat jarak antara adzan pertama ke adzan kedua masih cukup untuk berlari. Bolak balik mencari jalan menuju hotel,yang terlihat hanya jalan menuju masjid saja. Kami memutar arah mencari jalan keluar lagi, kembali lagi arah ke masjid. Allohu Akbar.

Qodarullah...makanya jangan pernah mencoba nakal di tanah suci sedikit saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budaya Kerja : start from ourselves

Mba Kerani dimana dikau sekarang....

SEGALA TIPS TENTANG BEHEL