Budaya Kerja : start from ourselves

Tulisan ini sebenarnya hanyalah "pelarian" atau lebih halusnya "refreshing" dari tugas penting lainnya yang harus diselesaikan malam ini. Walaupun "refreshing", setidaknya mampu menjadi bahan renungan diri sendiri.

Transformasi peran dari pekerja lapangan, pekerja proyek, pekerja swasta ke pekerja birokrat pemerintahan tentu sedikit menimbulkan cultural lag. Sebenarnya pemakaian kata cultural lag kurang pas, ya..pokoknya hampir miriplah sama jetlag..(wuaa...muter-muter deh..;). Sekali lagi semua transformasi ini tidak saya deskripsikan sebagai sesuatu yang merugikan, namun adalah sebuah pengkayaan ilmu, skill serta seni untuk mengolahnya menjadi personal value dan social value. Karena semua step transformasi dari peran satu menuju peran yang lainnya itu adalah pilihan. Yup! pilihan kita sendiri! Baik buruk, menyenangkan atau tidak tergantung dari apa yang kita pikirkan. Tidak ada salah satu peran yang menjamin kita akan menjadi manusia termulia disisiNya. Semua peran yang baik, berhak atas surgaNya.

Ok, satu topik untuk menemani refreshing malam ini, it's about  BUDAYA KERJA (hehe.nyambung ga seh?)
Dalam buku Corporate Culture: Challenge to Excellence disebutkan bahwa budaya kerja adalah serangkaian nilai atau keyakinan yang menghasilkan pola perilaku tertentu secara kolektif dalam korporasi. Pengertian lain menambahkan bahwa budaya kerja merupakan suatu aturan atau tatanan dalam organisasi yang harus ditaati oleh semua sumber daya yang ada, untuk mencapai kinerja yang tinggi (Manajemen, 2000). Sejalan dengan pemikiran diatas, Montana dan Charnov (2008) mendeskripsikan budaya kerja sebagai kumpulan nilai, kebiasaan yang membuat suatu perusahaan unik, menjadi karakter organisasi karena mewujudkan visi pendiri perusahaan. Nilai-nilai budaya dalam perusahaan tersebut mempengaruhi standar etika dalam perusahaan serta perilaku manajerialnya. Seperti yang tertulis sebagai berikut :
"Corporate culture is the total sum of the values, customs, traditions, and meanings that make a company unique. Corporate culture is often called "the character of an organization", since it embodies the vision of the company’s founders. The values of a corporate culture influence the ethical standards within a corporation, as well as managerial behavior"

Oleh karenanya, jika nilai-nilai yang tertuang dalam visi misi organisasi atau perusahaan belum menjadi social value atau collective action berarti value tersebut belum sempurna sebagai budaya kerja.

Berikut beberapa contoh budaya kerja yang dapat kita adaptasi sebagai perilaku individu dan institusi.
  • Budaya kerja Jepang : komitmen pada waktu, bekerja dalam tim, mempelajari cara kerja sebelum bekerja, optimis, kreatif dan berani merubah sikap.
  1. Seiri : bereskan
  2. Seiton : simpan teratur
  3. Seiso : bersihkan
  4. Seiketsu : mulai dari diri sendiri
  5. Shitsuke : disiplin
"Okyaku sama ha kamisama desu” (Langganan adalah Tuhan.) Kata ini menjadi motto bisnis Jepang. Perusahaan Jepang berusaha mengembangkan hubungan erat dengan langganan/customer. 
  • Toyota Corporation, dengan “The Toyota Way”. Toyota menyatakan “...to generate value for the customer, society, and the economy”. Mindset para karyawannya menjadi lebih humanis dengan filosofi tersebut, bahwa apa yang mereka kerjakan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan kondisi perekonomian. 
  • Southwest Airlines :
    1. Fokus pada situasi, permasalahan, atau perilaku, bukan pada orangnya
    2. Menghormati keyakinan dan pendirian orang lain
    3. Memelihara hubungan baik dengan pegawai, rekan kerja dan atasan
    4. Mengambil inisiatif untuk perbaikan
    5. Memimpin dengan memberi contoh. Nilai-nilai utama perusahaan adalah profitabilitas, biaya rendah, keluarga, fun, cinta, kerja keras, kebebasan individu, rasa memiliki, pelayanan terbaik, keseimbangan internal, akal sehat yang tepat, kesederhanaan dan kemanusiaan.
    • Apple, dengan Apple Culture, mengundang karyawannya melakukan dialog untuk mengidentifikasi faktor yang memberi kehidupan terhadap organisasi, mengimajinasikan keadaan masa depan organisasi, serta, merumuskan pernyataan value dan slogan. Mengundang partisipasi karyawan untuk menyusun pola perilaku dan proses bisnis di unit masing-masing yang selaras dengan budaya baru. Apple, juga melakukan forum dialog dan evaluasi untuk sharing dan apresiasi terhadap setiap keberhasilan. 
    • Starbucks : excellent service, care dan terbuka terhadap kritik.
    • Telkom : Committed 2 u : excellent service, customer value, competent people.  Perilaku : strech the goal, simplify, involve everyone, quality is my job, rewards the winners
    Idealnya budaya kerja dibenamkan oleh para pimpinan dengan dorongan, dan arahan diikuti partisipasi aktif seluruh elemen dibawahnya, serta pembenahan terhadap sistem kerja. Namun hal terpenting yang adalah mengimplementasikan nilai-nilai budaya dalam visi misi organisasi atau instansi mulai dari diri kita sendiri secara konsisten. Bukan perkara mudah, tapi juga jangan dibuat susah.....:)

    Komentar

    Posting Komentar

    Postingan populer dari blog ini

    Mba Kerani dimana dikau sekarang....

    SEGALA TIPS TENTANG BEHEL