Mba Kerani dimana dikau sekarang....


Saat kondisi dunia yang sedang sakit saat ini, banyak diantara kita yang terkena imbas dari beberapa sisi akibat Pandemi COVID 19. Aku merekomendasikan hiburlah diri dengan bacaan dan film yang ringan. Al Qur'an atau kitab suci agama kita jelas tetap pilihan bacaan utama ya. Drakor juga jadi hiburan menarik bagi kaum hawa (termasuk aku), cuma mata dan badan ikut letih ya...karena pisirin ngeklik next epsiode nya. Belum lagi emosi pengen ngamuk ikut terlibat di drakor married of the world. Nah karena membeli buku bukan prioritas utama di masa krisis ini, upayaku mengoprek rak buku menemukan lebih banyak buku berat yang kurang mendukungku menghadapi hari hari dengan cerah. 

Pilihan jatuh ke “My Stupid Boss”. Di rak cuma ada seri 4. My Stupid Boss Jilid 1 (terbitan pertama tahun 2008-2009) kubaca di tahun 2010, pinjem punya sahabatku Diah. Trus punya Jilid 2,3 entah dipinjem entah kukasih?. Benar sekali kata kata Gus Dur yang kuingat hingga sekarang, “Kamu merugi kalau meminjamkan buku”, karena jarang yang balik maksudnya”. Jilid 4 ini kubeli mungkin di tahun 2012 buat sahabatku yang lain,Yani. Aku punya kebiasaan buruk, kalau ada masalah kabur ke rumah dia hingga sekarang. Tahun 2013 an saat aku kabur (kesekian kalinya), aku nemu buku ini di rak dia  masih rapi banget. Curiga kan pasti ga pernah dibaca. Jadi bukunya aku ambil lagi dengan izin tentunya. Nah, kalau My stupid Boss jilid 5 punyaku....ga tau juga ada dimana.

My Stupid Boss ini kisah nyata temans. Berawal dari blog Mba Kerani yang punya nama asli Kerani. Blog lamanya yang kuingat dashboardnya itu warna item,udah ga ada. Nemu blog baru, tapi update terakhir tahun 2016 pas lagi “up” versi film. Dulu Blog maupun buku Mba Kerani ini jadi semacam kitab suci warga kantoran yang kadang sutris dengan kerjaan, lingkungan maupun pimpinan. Bahkan ibu ibu hamil yang kerja kantoran ga kepikir baca buku panduan kehamilan, lebih milih baca buku My Stupid Boss. 

Mba Kerani menceritakan kegokilan Bosnya di sebuah perusahaan yang berlokasi di Malaysia. Di jilid 5 agak sedih bacanya, Mba Kerani menceritakan keinginannya untuk berhenti menulis tentang pak Bos karena bosnya punya kontribusi kebaikan yang besar saat suaminya meninggal. Mba Kerani atau mba Dian ga pernah menampakkan jati dirinya ke publik loh untuk menghormati Bosnya, kuatir kan kalau sampe ketauan. Mungkin yang udah pernah lihat BCL atau tim publishing kali ya. Aku ingat juga begitu banyak komen reader di blognya mengemis ngemis supaya Mba Kerani mau membocorkan siapa nama aslinya dan memunculkan wajahnya sekali aja.haha gokil deh. Buku Jilid 4 ini jadi satu satunya warisan Mba Kerani di rak bukuku dan udah kubaca lebih dari 5 kali, obat mujarab (sementara) disaat pelik. 

Harapanku, Mba Kerani mau nulis nulis lagi, yang ga harus nulis tentang bosnya kan..., apa mungkin udah, aku tak tau ?? Mba Kerani..kalau kamu baca tulisanku, follow my IG please (ngelunjakkk)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budaya Kerja : start from ourselves

SEGALA TIPS TENTANG BEHEL