Ketika Rasa Kangen Ngantor Terselip di balik Pandemi Covid 19
Aku kangen ke kantor? Kayanya ajaib sih. Selama 10 tahun menjadi PNS,
seringkali aku merasa hopeless, useless. Dulu aku memang tidak pernah
bermimpi menjadi PNS, bahkan anti. Walau kedua orangtua menjadi PNS, mereka
malah sering menasehati “mbok ya jangan sampe anak Papa jadi PNS”. Tanpa
penjelasan lebih lanjut. Waktu itu aku cuma berpikir karena pekerjaan orang tua menangani kasus yang sarat dengan konflik kepentingan, gratifikasi
atau ancaman. Passion atau latar
belakang pendidikan memang bukan standar placement sebagai PNS. Dan keinginan
resign itu muncul setiap hari, walau tak dipungkiri kebahagiaanku juga ada pada
saat aku menerima notif mbanking gaji dan tunjangan kerja serta dipanggil pak
bendahara bahwa uang perjalanan dinas cair.
Bulan Januari aku bertekad menjadikan resign PNS sebagai resolusi 2020. Mulai
aku berkonsultasi dengan PNS yang viral di media karena memutuskan resign
disaat telah memiliki posisi jabatan yang baik. Setelah itu aku menjalin komunikasi
dengan teman seangkatan yang telah resign sebelumnya. Bulan Februari aku mulai
menulis draft surat permohonan mengundurkan diri, tepat disaat aku mengalami
masalah internal keluarga yang berat. Terbayang lingkungan kantor yang kurang
kondusif dalam hal perkepoan akut. Seharusnya waktu 10 tahun cukup buatku
bermental “Kebo” menghadapi orang orang. Tapi saat itu sisi “sentimentil’ ku
yang terlampau lebay mampu mengalahkan semua itu. Aku dengan anak tertua
bersama sama merancang bisnis plan, membuat plan A,B,C apakah yang akan terjadi
jika aku resign. Ini murni hitungan logis matematis diluar kekuatan Alloh
menjaga HambaNya ya. Satu dua kali aku
sampaikan niatku ini secara informal, obrolan sambil lalu pada pimpinan dan teman
yang menjabat di kepegawaian.
Hampir 1,5 bulan Work From Home kami PNS Kementerian Pusat (bukan DKI loh)
yang menerima gaji tetap pun mengalami oleng. Puyeng juga merelokasi anggaran
RT, karena otomatis anggaran perjalanan dinas tidak ada lagi, belum
membayangkan gaji ke13 dipotong dan tunjangan kinerja tidak dibayarkan. Apa
masalahnya? Bukan rahasia lagi kalau kehidupan PNS (sebagian ya..) ada juga
cicilan rumah, kendaraan sama seperti pekerja swasta lainnya. Salah sendiri
kenapa berhutang? Baru nyadar kalau hutang di bank dan leasing itu Riba? Salah
sendiri hidup harus ngutang, bukan membeli ketika tabungan ada?. Itu memang menjadi evaluasi diri masing-masing.
Pasti dengan wabah Covid 19, semua pihak akan mendapatkan pelajarannya. Banyak hikmah
didalamnya. Salah satunya adalah rasa syukurku menjadi pekerja tetap yang tidak
terimbas total dengan pandemi ini.
Melihat berita media sosial tentang PHK besar besaran, belum kisah pekerja
swasta bergaji tinggi terkena dampak PHK seketika kehidupannya kolaps karena
gajinya sebagian besar untuk cicilan rumah dan kendaraan. Banyak memilih tidur
di emperan, karena tidak lagi mampu membayar kontrakan rumah, Seorang ibu yang
makan dengan lauk krupuk dan garam. Begitu banyak saudara-saudaraku diluar sana
yang jauh tidak beruntung dibandingkan aku. Rasa syukur perlahan memenuhi
batin, masih bisa makan dan mencukupi kebutuhan sehari hari.
Dan pelan pelan
aku mulai kangen dengan teman teman ajaibku itu. Ya, kangen suasana dan canda
gurau kami, kangen pakai seragam duduk di meja kantor, kangen jajanan kantin,
kangen ghibah berjamaah, kangen saling bully (haduh jangan ditiru ya), kangen
foto foto jumpalitan apalagi ya...Begitu deh. Semoga Pandemi Covid 19 ini segera
berakhir, seluruh masyarakat yang terkena dampak kembali dapat beraktifitas dan
bekerja seperti sedia kala, dunia usaha menggeliat kembali dan yang paling
penting adalah menjadi pribadi yang baru yang lebih baik dari sebelumnya.
Aamiin.


Komentar
Posting Komentar